#Terima kasih telah berkunjung * Pengunjung yang baik selalu meninggalkan jejaknya* Ditunggu ya komentarnya*#Terima kasih telah berkunjung * Pengunjung yang baik selalu meninggalkan jejaknya* Ditunggu ya komentarnya*#Terima kasih telah berkunjung * Pengunjung yang baik selalu meninggalkan jejaknya* Ditunggu ya komentarnya*#Terima kasih telah berkunjung * Pengunjung yang baik selalu meninggalkan jejaknya* Ditunggu ya komentarnya*#Terima kasih telah berkunjung * Pengunjung yang baik selalu meninggalkan jejaknya* Ditunggu ya komentarnya*#Terima kasih telah berkunjung * Pengunjung yang baik selalu meninggalkan jejaknya* Ditunggu ya komentarnya*#Terima kasih telah berkunjung * Pengunjung yang baik selalu meninggalkan jejaknya* Ditunggu ya komentarnya*#Terima kasih telah berkunjung * Pengunjung yang baik selalu meninggalkan jejaknya* Ditunggu ya komentarnya*#Terima kasih telah berkunjung * Pengunjung yang baik selalu meninggalkan jejaknya* Ditunggu ya komentarnya*#Terima kasih telah berkunjung * Pengunjung yang baik selalu meninggalkan jejaknya* Ditunggu ya komentarnya* <div style='background-color: #217bdb;'><a href='http://news.rsspump.com/' title=''>news</a></div>

Jumat, 20 Januari 2012

Teori Bermain

0 komentar
Menurut Soeparno (1987:60) menyatakan bahwa “permainan merupakan suatu aktivitas untuk memperoleh suatu keterampilan tertentu dengan cara yang menggembirakan.” Sedangkan menurut Rofi’uddin et al. (1999:248) menyatakan bahwa “permainan adalah bentuk paling matang dari bentuk bermain, yaitu bentuk bermain sensori motor, bermain fisik, bermain simbolik.”
            Berdasar dari pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa permainan merupakan aktivitas yang lebih kompleks dari bermain. Bermain memiliki cakupan yang lebih sederhana dari permainan.
            Mengenai bermain, ada beberapa teori yang menjelaskan tentang bermain. Menurut Tedjasaputra (2001:1) menyatakan bahwa “teori yang mempelajari tentang bermain dibagi dua, yaitu teori klasik dan teori modern.” Sedangkan menurut Resmini dan Hartati (2007:170) menyatakan bahwa:
teori permainan terdiri dari teori klasik dan teori dinamik. Teori klasik meliputi teori surplus energi, relaksasi, pralatihan, dan rekapitulasi. Sedangakan teori dinamik meliputi teori konstruktivisme, dan teori psikodinamik.


            Berdasarkan dari hal  tersebut dapat dijelaskan tentang teori dalam bermain sebagai berikut.
a)        Teori Klasik
(1)     Teori Plato, Aristoteles, dan Frõbel
            Menurut Tedjasaputra (2001:1) “Plato dianggap sebagai orang pertama yang menyadari pentingnya nilai praktis dari bermain.” Aristoteles dan Frõbel sama-sama berpendapat bahwa bermain sebagai kegiatan yang mempunyai nilai praktis. Artinya bermain digunakan sebagai media untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan tertentu pada anak.
(2)     Teori Suplus Energi
Penggagas teori suplus energi adalah Herbert Spencer. Menurut Spencer (2001:2) menyatakan bahwa :
kegiatan bermain seperti melompat, bergulingan yang menjadi ciri khas kegiatan anak kecil maupun anak binatang perlu dijelaskan secara berbeda. Spencer berpendapat bahwa bermain terjadi akibat energi yang berlebihan dan ini hanya berlaku pada manusia serta binatang dengan tingkat evaluasi tinggi.

(3)     Teori Relaksasi
            Teori relaksasi merupakan lawan dari teori suplus energi. Teori ini mengajukan dalil bahwa bermain adalah untuk memulihkan energi yang sudah terkuras saat bekerja. Penggagas teori relakasasi adalah Morrizt Lazarus. Menurut Lazarus (2001:3) menyatakan bahwa “bermain merupakan lawan dari bekerja dan merupakan cara yang ideal untuk memulihkan tenaga.”
(4)     Teori Rekapitulasi
            Penggagas teori rekapitulasi adalah G. Stanley Hall. Dasar teori ini merupakan teori evoulusi dari Charles Darwin. Teori ini berpendapat bahwa anak merupakan mata rantai evolusi dari binatang sampai menjadi manusia.
            Menurut Tedjasaputra (2001:4) menyatakan bahwa
teori rekapitulasi berhasil memberi penjelasan lebih rinci mengenai tahapan kegiatan bermain yang mengikuti urutan sama seperti evolusi makhluk hidup. sebagai contoh, kesenangan anak untuk bermain. air dapat dikaitkan dengan kegiatan nenek moyangnya, spesies ikan yang mendapat kesenangan di dalam ait
 (5)     Teori Praktis/Pralatihan
            Penggagas teori ini adalah Karl Groos. Dasar teori ini adalah prinsip seleksi alamiah yang dikemukakan oleh Charles Darwin. Menurut Groos (Tedjasaputra,2001:5), menyatakan bahwa :
Binatang dapat mempertahankan hidupnya karena dia mempunyai keterampilan yang diperoleh melalui bermain. Bayi baru lahir dan bintatang mewarisi sejumlah instingtif yang tidak sempurna dan insting ini penting guna mempertahankan hidup. Contoh bahwa bermain dapat meningkatkan keterampilan dan merupakan kegiatan insting, dapat damati pada anak kucing yang lari mengejar dan menangkap bola sebagai latihan menangkap mangsanya. bayi menggerak-gerakan jari, tangan, kaki tiada lain sebagai latihan untuk mengkontrol tubuh. Bayi berceloteh untuk melatih otot-otot lidah yang dibutuhkan untuk bicara.

b)        Teori Modern
(1)     Teori Psikoanalisis
Penggagas dari teori psikoanalisis adalah Sigmund Freud. Menurut Freud (Tedjasaputra, 2001:7) menyatakan bahwa :
                        bermain sama seperti fantasi atau lamunan. Melalui bermain seseorang dapat memproteksikan harapan-harapan maupun konflik pribadi. Bermain memegang peran penting dalam perkembangan emosi anak. Anak dapat mengeluarkan semua perasaan negatif, seperti pengalaman yang tidak menyenangkan/traumatik, dan harapan-harapan yang tidak terwujud dalam realita melalui bermain. Sebagai contoh, setelah mendapat hukuman fisik dari guru, anak dapat menyalurkan perasaan marahnya dengan bermain pura-pura memukul boneka.

Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa teori ini berdasar pada anggapan bahwa bermain dapat mencapai tahap psikologi bagi sesorang dalam memunculkan imajinasi atau fantasinya.
(2)   Teori Kognitif
Para tokoh yang tergabung dalam teori kognitif antara lain Jean Piaget, Vygotsky, Bruner, Sutton Smith serta Singer, masing-masing memberikan pandangannya mengenai bermain.
Menurut Piaget (Tedjasaputra, 2001:8)  tentang bermain yang didasarkan pada teori perkembangan intelektual anak, menyatakan bahwa :
Bermain sejalan dengan tahap perkembangan kognisinya, kegiatan ini mengalami perbuahan dari tahap sensori-motor, bermain khayal sampai kepada bermain sosial yang disertai aturan permainan. Bermain bukan saja mencerminkan tahap perkembangan kognisi anak, tetapi juga memberikan sumbangan terhadap perkembangan kognisi itu sendiri. Dalam proses belajar perlu adaptasi dan adaptasi membutuhkan keseimbangan antara dua proses yang saling menunjang asimlasi dan akomodasi. Bermain merupakan keadaan dimana asimilasi lebih dominan dari pada akomoadasi. Sebagai contoh, pada episode bermain peran yang dilakukan seorang anak bersama teman-temannya, Terjadi beberapa transformasi simbolik seperti pura-pura menggunakan balok sebagai telur. Dari permainan itu anak tidak belajar keterampilan baru, namun dia belajar mempraktekan keterampilan apa yang telah dipelajari sebelumnya.

Sedangkan menurut Vigotsky (Tedjasaputra, 2001:10) menyatakan bahwa:
bermain didasarkan pada ketidakmampuan anak kecil berpikir abstrak. Bermain adalah self helf tool. Misalnya, seorang anak yang rewel dan menangis kalau disuruh tidur, dalam situasi bermain pura-pura, dia akan naik ke temapt tidur tanpa menangis. Dalam bermain, anak mampu mengendalikan dirinya karena kerangkan bermain berada dibawah kontrol anak atau yang dilakukan dalam situasi imajiner.  Bermain identik dengan kaca pembesar yang dapat menelaah kemampuan baru dari anak yang bersifat potensial sebelum diaktualisasikan dalam situasi lain, khususnya dalam kondisi formal.

Selain itu bermain menurut teori Bruner (Tedjasaputra, 2001:10), menyatakan bahwa “bermain sebagai sarana mengembangkan kreativitas dan fleksibilitas. Dalam bermain, yang lebih penting bagi anak adalah makna bermain dan bukan hasil akhirnya.”  Selanjutnya menurut Sutton Smith (Tedjasaputra, 2001:12) menyatakan bahwa “bermain merupakan adaptive variability. Variabilitas bermain memegang faktor kunci dalam perkembangan manusia.”
(3)     Teori Singer
Menurut Jerome Singer (Tedjasaputra, 2001:12) menyatakan bahwa ‘bermain memberikan suatu cara bagi anak untuk memajukan kecepatan masuknya stimulus, baik dari dunia luar maupun dari dalam yaitu aktivitas otak yang secara konstan memainkan kembali dan merekam pengalaman.’
(4)     Teori Arrousal Modulation Theory
Teori Arrousal Modulation Theory dikembangkan oleh Berlyne (1960) dan dimodifikasi oleh Ellis (1973). Menurut Tedjasaputra (2001:13) menyatakan bahwa “teori ini menekankan pada anak yang bermain sendirian atau anak yang suka menjelajah objek di lingkungannya.” Sedangkan menurut Ellis (Tedjasaputra, 2001:13) menyatakan bahwa :
bermain sebagai aktivitas mencari rangsang yang dapat meningkatkan arrousal secara optimal. Bermain menambah stimulasi dengan menggunakan objek dan tindakan baru serta tidak biasa. Contoh kalau anak bosan main perosotan dari atas ke bawah, dia dapat meningkatkan stmiulas dengan berjalan menaiki papan perosotan dari bawah ke atas.

(5)     Teori Bateson
Menurut Bateson (Tedjasaputra, 2001:14) tentang bermain menyatakan bahwa ‘bermain bersifat paradoksial karena tindakan yang dilakukan anak saat bermain tidak sama artinya dengan apa yang mereka maksudkan dalam kehidupan nyata.’
Bermain dan permainan memiliki keterkaitan satu sama lain. Hanya saja yang membedakan antara keduanya adalah aturan. Sebagaimana menurut Rofi’uddin dan Zuhdi (1999:256) menyatakan bahwa “ciri utama permainan yang membedakan dengan bermain adalah adanya peraturan.” 

KAJIAN PUSTAKA

Rofi’uddin, A., dan Zuhdi, D. (1999). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Soeparno, (1988). Media Pengajaran Bahasa. Yogyakarta: PT Intan Pariwara.


Tedjasaputra, M.S. (2001). Bermain, Mainan, dan Permainan. Jakarta : Grasindo

0 komentar:

Poskan Komentar